Pendidikan Matematika Realistik (Realistic Mathematics Education)

Pendidikan Matematika Realistik (RME) tidak dapat dipisahkan dengan Freudenthal Institute. Lembaga ini didirikan pada tahun 1971 di bawah Universitas Utrecht, Belanda. Nama lembaga ini berasal dari nama Profesor Hans Freudenthal (1905 -1990), seorang penulis, pendidik dan matematikawan. Sejak tahun 1971, Freudenthal Institute telah mengembangkan pendekatan teoritis terhadap belajar mengajar matematika yang disebut RME (Realistic Mathematics Education). RME menggabungkan ide-ide tentang apa itu matematika, bagaimana siswa belajar matematika, dan bagaimana matematika harus diajarkan. Freudenthal berasumsi bahwa siswa tidak boleh dianggap sebagai penerima pasif siap pakai matematika. Menurut Freudenthal pendidikan dapat disusun sedemikian rupa sehingga mendukung siswa untuk menggunakan setiap situasi dan kesempatan melakukan penemuan kembali terhadap matematika secara mandiri. Banyak masalah dapat dikembangkan dari berbagai konteks yang dianggap bermakna sebagai sumber belajar. Konsep-konsep matematika yang dikembangkan dari proses matematisasi yang dimulai dari hubungan konteks memungkinkan siswa untuk mencari solusi secara bertahap dalam mengembangkan perangkat untuk memahami matematika pada tingkat formal. Model yang muncul dalam kegiatan matematika memungkinkan interaktivitas yang cepat bagi siswa yang mengarah ke tingkat berpikir matematika yang lebih tinggi. 

Media Pembelajaran

Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari medium (Djamarah dan  Aswan,2002:136). Secara harfiah media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa (Sadiman,dkk.). Salah satu ciri media pembelajaran sebagaimana yang dijelaskan oleh Arsyad (2010:81) adalah membawa pesan atau informasi kepada penerima yaitu siswa. Pesan atau informasi yang dibawa oleh media bisa berupa pesan yang sederhana dan bisa pula pesan yang amat kompleks. Keberadaan media pembelajaran dapat membantu guru untuk menyampaikan materi pembelajaran. Dengan menggunakan media, diharapkan siswa menjadi lebih paham akan materi yang disampaikan oleh guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Dalam usaha pemanfaatan media pembelajaran, Edgar Dale melakukan klasifikasi terhadap tingkat pengalaman siswa dalam belajar dari yang paling konkret sampai yang paling abstrak. Tingkat pengalaman tersebut berdasarkan pada seberapa banyak indera yang terlibat di dalamnya. Kerucut pengalaman Dale diilustrasikan pada gambar di bawah ini.