Menjemput Cita di Gerbang Unesa

Hai sahabat , lama tak meluangkan waktu menulis cerita tentang kehidupan pribadi. Ini cerita saya, tentang sebuah kesyukuran akan kesempatan yang saya peroleh untuk melanjutkan studi S2. 
Setahun yang lalu, saya pernah bercita-cita untuk melanjutkan studi S2 dengan program studi yang relevan dengan pekerjaan saya. Untuk pegawai muda seperti saya, biaya studi S2 bukanlah hal yang murah. Maka saya bercita-cita, suatu hari saya akan melanjutkan S2 dengan ikut program beasiswa. Dan... postingan ini adalah sebuah angan-angan yang pernah ada di pikiran saya beberapa bulan lalu. Saya membayangkan, diterima beasiswa S2, dan menuliskan kesyukuran saya pada halaman Adenium.

Di Sudut Kota Surabaya

Tempat baru,lingkungan baru, dan orang-orang baru. Itulah adaptasi yang tengah saya jalani di tengah keramaian kota yang baru saya tinggali 4 hari ini. Surabaya, pemukiman yang padat,keramaian, kendaraan yang lalu lalang tiada henti, mahasiswa yang hilir mudik ke kampus, pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang trotoar, adalah sederet pemandangan yang saya tangkap dalam keseharian di sini.
Tentu saja, dalam sebuah tulisan ada hal mengesankan atau sebuah pesan yang ingin saya sampaikan melalui pengalaman yang saya peroleh. 
Sahabat pembaca, ketika saya membeli jus belimbing sore tadi sekitar pukul 18.30, datang seorang gadis kecil. Perawakannya kurus dengan tinggi kira-kira 1 meter. Penampilannya bersahaja dan terawat. Tetapi, gadis itu membawa alat musik yang saya namakan "kecrek" dan sebuah tas hitam kecil yang diselempangkan di bahu mungilnya. Lalu gadis kecil itu memainkan "kecrek" di depan penjual jus,karena tidak dihiraukan, dia menghampiri saya yang sedang menunggu jus belimbing diblender. Belum sempat memainkan "kecrek", saya mengajak gadis kecil itu bicara,potongan dialognya sebagai berikut :